Legenda Desa Sukarame

  • Legenda Desa (Sasakala)

Konon kabarnya menurut cerita rakyat semasa dengan pembuatan situ cangkuang,ada lagi situ yang lain yaitu:  situ Bagendit, situ Bedahan, Situ Sukarame , Situ Jongor dan situ Sarkanjut.

Di desa sukarame terdapat sebuah situ atau danau yang diberinama  situ Sukarame yang konon katanya waktu pembuatan dipimpin oleh seorang dalem yaitu Dalem Ardi Manggala.

Ardi Manggala adalah putra dari dalem Wiranta ( Wirabaya ) yang dimakamkan di pulo gede Situ Cangkuang.

Didalam pembuatan Situ Sukarame terdapatbanyak kesulitan diantaranya setiap hampir selesai dibendung tambaknya selalu jebol.Oleh karena itu dibuat syaembara bahwa Barang siapa yangsanggup untuk menyelesaikan situ sukarame akan dijadikan menantu Dalem Ardi Manggala ,yaituakan dikawinkan dengan anaknya yang bermnama Ny Mas Margawulan

Syaembara tersebut sampai ke kerajaan mataram diantaranya terdengar oleh Rd Nur Alim Wijaya Kusumah.Rd Nur Alim Wijaya Kusumah menanggapi tetapi dengan syarat,yaitu meminjam Ny Mas Margawulan untuk direndam di laut selama dua minggu,tetapi dijamin tetap untuk selama hal ini untuk mengetes,apakah kuat direndam selama dua minggu atau tidak kalau diakuat akan tetap dijadikan istrinya dan akan mengerjsksn pembuatan Situ Sukarame itu dan kalau tyernyata tidak kuat berarti batal pula niatnya.

Dalaem Ardi Manggala mengabulkan permintaan itu,dan anaknya akan dibawa ke Mataram .setelah sampai di Mataram lalu dibawa kelaut dan direndamkanya setiap hari dijaga oleh Rd Nur Alim Kusumah. Ny MasMargawulan selama dua minggu didalam rendaman itu tidak ada perubahan apa-apa kelihatanya segar bugar.

Setelah itu Ny Mas Margawulan diobawa lagi ke tempat semula dan diserahkan kepada ayahnya Ketika itu terus diakad tikahkan,tetapi seterusnya dititipkan kepada ayahnya ( Dalem Ardi Manggala ),dan Rd Nur Alim WijayaKusumah pergi ketanah Bugis untuk mengambil segenggam tanah dari sana,karena menurut pendapatnya pekerjaan imni akan selesai kalau dibibuhi tanah dari bugis.

Dengan cepat sekali Rd Nur Alim Wijaya Kusumah dapat menyelesaikan pekerjaan itu dan setelah selesai maka dineritahukamnya kepada mertuanya bahwa pekerjaan telah selesai.Bukan main girang hati mertuanya setelah mendengar perkataan menantunya telah menyelesaikan tugasnya dan pergi untuk menyaksikanya.

Ketika sampai ditempat, tertegun tanda kurang setuju karena bendunganya kurang depan (kurang  girang ,bahasa sunda ) sang menatu menjawabnya,bahwa hal ini memang disengaja karena suatu ketika dikampung Kelapa dua daerah ini akan ada pasak setelah mendengan jawaban itu mertuanya menyetujuinya.

Pada acara peresmian situ dan pertikahan  itu dipentaskan macam-macam hiburan,bukan saja kesenian dari daerah setempat juga dari daerah Bugis yaitu ronggeng bugis,suasana pada waktu itu sangat menggembirakan

( bahasa sunda Sukarame ) maka tempat keramian dan danaunya disebut Sukarame.

Takan lama kemudian setelah itu datanglah adik Dalam Ardi Meanggala dari kandang wesi bernama Iondra manggala ia bermaksud akanmembantu sang kakak ,karena mendengar bahwa pekerjaan menemui kesulitan tetapi setelah datang pekerjaan telah selesai ia mengucapkan terimakasih kepada yang menyelesaikan itu dan ia akan bermaksud menetap disini dengan saudaranya ia terus menetap disini sampai meninggal dunia  dan dimakamkan di muara dan dia tetap menjaga situ itu.

Taklama kemudian datang lagi adik dari Dalem Ardi manggala yang kedua dari paledang  (Embah Paledang ) ia bermaksud akan membantu sang kaka .Embah paledang nama aslinya ( Jibja Manggala ) ia yang memindahkan Negara Dayeuh Luhur dan diganti namanya menjadi Sumedang,

Oleh karena danaunya telah selesai dibendungia kesanggupan untuk mencari bibit ikanya ia pergi ke Mataram dan membawa bibit ikan kedalam tempurung ( bahasa sunda batok )

Sebelum itu ditanamkan dihitung dulu dan dibagi-bagi kepada lima danau tadi,kecuali situ bedah yang tidak ditanami karena situnya tidak selesai dibangun.

Pada satu tempat, ditempat itu tumpah maka tempat itu disebut cibatok yang sekarang jadi cibatek.

Suatu amanat dari Dalem Ardi Manggala danau itu khusus bagi kesejahteraan masyarakat,Barang siapa yang mengambil barang ini atau menguasainya , maka kalau pejabat tidak akan lama memegang jabatanya itu.

Untuk menghindari dari amanat itu pada suatu ketika diadakan musyawarah dengan masyarakat tentang kemanpaatan danau itu .Oleh karena beban masyarkat berat sekali untuk membiayai kelancaran pemerintahan di Desa ,maka danau ini atas nama masyarakat diolah oleh Desa bersangkutan.Hal ini dapat meningkatkan masyarakat dan seolah-olah masyarakat yang berinisiatif.

Dalem Ardi manggala dan keluarganya lama disini sampai semuanya meninggal dan dimakamkan disekitar daerah Sukarame dan margaluyu.

 

Terbentuknya Desa Sukarame

Catatan sejarah Desa Sukarame  menerangkanSebelumnya di Kampung sukarame belum ada desa tadinya adalah masih termasuk desa Margaluyu,dan seiring dengan evolusi jaman dan kepadatan penduduk yang semakin bertambah maka para tokoh dan para alim ulama menghusulkan agar desa margaluyu dipekar menjadi dua,dan akhirnya pada tahun 1976 jadilah pemekaran desa margaluyu menjadi dua desa yang sekarang menjadi dua desa yaitu desa margaluyu sebagai desa asal dan desa sukarame sebagai desa hasil pemekaran.

Sumber-sumber pendapatan desa diantaranya adalah Bengkok (Tanah carik) hasil dari tanah titisan desa, tanah hasil kanomeran, tanah milik adat, , dan lumbung desa.

 

 

Kepala Desa  DesaSukarame  Pasca pemekaran  adalah :

  1. Bpk .Enos Ruyatna (1976 – 1995 )
  2. Sukarna , Juru Tulis satu

 

Kepala Desa  DesaSukarame  setelah Orde Baru (Reformasi) adalah :

  1. Enas Ruyatna ( 1976 – 1993 )
  2. Igun Gunawan ( 1993 –2001 )
  3. Enceng Solihin SE. ( 2002 – 2007 )
  4. Enceng Solihin SE. ( 2008 s/d 2014 )
  5. H.Asep Basir ( 2014 s/d Sekarang )

Juru Tulis Desa ( Sekdes )

  1. Sukarna ( 1976 – 1993 )
  2. Iim Rasmika ( 1993 – 2001 )
  3. Saepuloh – Bpk.Wahyudin ( 2002 – 2007 )
  4. Bpk Wahyudin ( 2008 s/d 2013 )
  5. Bpk Wahyudin – Bpk Akhmad Khabiruripai ( 2014 s/d 2020 )

 

Kebudayaan Masyarakat Sukarame  yang ada sejak zaman dulu diantaranya ;  Tradisi Ngaruat lembur, Tradisi Ziarah, Tradisi Hajat Tujuh Bulan, Tradisi Numbal Bumi, dan lain-lain.

Cagar Budaya yang ada diantaranya yaitu Makam Eyang Dalem ArdiMenggala di Dusun Satuserta makam-makam tokoh masyarakat Sukarame  lainnya.

Di Desa Sukarame  ada dua hal yang menjadi sangat terkenal dan menjadi cirri khas yaitu makanan tradisional Burayot dan Raginang  dan tempat .

Advertisements